fbpx
BangliCeremonial

Banyu Pinaruh,Taman Pecampuan Ramai Pengunjung

Bangli,Mediapelangi.com– Banyak  tempat melakukan ataupun untuk kegiatan rohani lainnya seperti tempat melukat/ menyucikan diri di tempat bertuah yang diyakini memiliki kekuatan spiritual yang tak lepas karena kekuatan suci yang berasal dari Ida Sang Hyang Widi. Seperti halnya Wisata spiritual belakangan banyak disukai masyarakat.

Yang teranyar, masyarakat mulai banyak berkunjung melukat (melakukan pembersihan diri) ke Taman Pecampuan, Desa Pekraman Sala,Desa Abuan, Susut Bangli. Tempat wisata spiritual ini sangat unik karena terdapat tirta dalam goa, dan untuk masuk ke dalamnya melalui mulut patung naga. Pancuran ini diyakini warga sebagai tempat melukat, menyucikan diri secara jasmani dan rohani, menghilangkan pengaruh-pengaruh buruk seperti ilmu hitam, sehingga bisa melebur leteh (kotoran).

Menurut Bendesa Pekraman Sala, Ketut Kayana didampingiPerbekel Abuan Wayan Widnyana Minggu (20/08/2017) mengatakan keberadaan tempat pelukatan ini sangat unik. Karena dalam goa terdapat tirta tulak wali yang diyakini bermanfaat untuk pengobatan. Karena berada dalam goa, untuk mencapainya harus masuk lewat patung mulut naga di bibir goa. Selain tirta tersebut, juga terdapat tiga tirta lainnya yakni tirta pandan yang diyakini untuk penolak bala atau marabahaya; tirta pule untuk pengobatan dan tirta bungbung untuk kelancaran ekonomi. ‘’Patung mulut naga baru dibuatkan belum lama ini. Kalau goanya memang sudah ada sejak lama,’

Lebih lanjut Kayana membeberkan, di obyek wisata tirta ini terdapat sembilan pancuran. Empat buah di utara dan lima di timur. Jumlah ini sesuai pengider buana. Kendati belum dibuka resmi, obyek wisata spiritual ini sudah banyak dikunjungi masyarakat baik dari Bangli, Gianyar, Tabanan,Klungkung.Badung,Denpasar. Tempat parkir pengunjung saat ini dikatakan belum ada. Mereka masih parkir di pinggir jalan menuju tirta pecampuan. Untuk mendukung penataan obyek, rencananya akan dibuatkan tempat parkir khusus. Untuk melukat juga tidak diharuskan membawa sarana bebantenan khusus, tetapi disesuaikan dengan kemampuan namun yang terpenting kwangen dengan bunga tunjung tiga warna dan diisi uang kepeng. Demikian juga tidak ada pantangan khusus kecuali cuntaka,’’ jelasnya.

Air yang digunakan untuk pelukatan tersebut keluar dari sumbernya di dalam gua. Urutan untuk melukat disana, pengunjung terlebih dahulu mandi di toya penyampuhan yang berada di bawah. Selanjutnya barulah naik ke pancuran kedua, tujuannya untuk menghilangkan cuntaka. Setelah di kedua pancuran ini, baru melukat di pancuran utama.  Sebelum melukat di tempat utama,

Sementara itu Perbekel Desa Abuan I Wayan Widnyana menambahkan, wisata spiritual seperti ini sasaran utamanya wisatawan lokal. Di sekitar tempat pecampuan itu juga terdapat sejumlah air terjun. Potensi ini akan dikelola untuk mendukung wisata spiritual tersebut yang dikaitkan dengan wisata cykling menuju Pucak Candri Manik Banjar Serokadan langsung ke Air Terjun Tibamana Bangun Lemah Kawan,Desa Apuan”ungkapnya.

Baca Juga:  Perayaan Imlek di Tabanan: Cermin Toleransi dan Kebersamaan

Dalam perjalanan menuju Taman Campuan rasa kedamaian,menyuguhkan nuansa spiritual yang kental, air pancuran mengalir begitu jernih, tidak pernah kering walaupun saat musim kemarau, tebing-tebing terlihat begitu indah, seolah memagari tempat ini menjauhkan kita dari pengaruh-pengaruh buruk. Pesonanya menjadikan tempat ini sebagai  wisata spiritual yang patut diperhitungkan apalagi yang suka dengan perjalanan wisata rohani. Air pancuran mengalir dari mata air alam .

Taman Campuan berarti campuran,dimana bercampurnya empat mata air yakni Tirta Pule,Tirta Bungbung, Tirta Pandan dan Tirta Tulak Wali  yang sudah berumur ratusan tahun. Pada hari-hari suci menurut kalender Hindu, tempat ini mulai banyak dikunjungi warga dengan tujuan melukat, ada seorang Pemangku yang akan menghaturkan banten/ canang anda sebelum mulai melukat. Pemangku ada setiap  hari apalagi seperti tilem, purnama, kajeng kliwon atau hari besar lainnya dan pada hari Sabtu dan Minggu.

Tata caranya anda mulai melukat dari pancuran dari ujung  Selatan ke Utara. Setelah selesai melakukan pembersihan diri kembali sembahyang di Pura Tirta Sudamala. Berdasarkan pantauan di lapangan, Minggu (20/08/2017)  pengunjung yang datang ke Tirta Pecampuan berasal dari segala usia, mulai dari balita hingga orang yang sudah lanjut usia. Membludaknya kunjungan tak membuat niat warga untuk malukat  surut. Dengan rasa sabar mereka menunggu giliran untuk menikmati dinginnya kucuran air.(*)

 

Berita Terkait

Back to top button
error: Konten ini terlindungi.