Angklung Kebyar Buleleng, Alah Bisa Karena Biasa

31
Angklung kebyar yang dipentaskan oleh Sekaa Karawitan Eka Wakya, Banjar Paketan, Buleleng

DENPASAR, MEDIAPELANGI.com – “Singaraja belum pernah ada masalah karena sampun terbiasa dengan 5 nada, sebab di Singaraja itu bahkan 6 sampai 7 nada mereka sudah latih,” ujar I Wayan Suharta selaku pengamat Seni Tari dan Tabuh Angklung Kebyar di Taman Budaya Bali, Jumat (13/07/2018).

Sejak pembinaan sebelum akhirnya melesat ke Pesta Kesenian Bali ke-40, Buleleng memang telah siap dengan garapan Tari dan Tabuh Angklung Kebyar. “Meski saat kami awasi kala pembinaan di bagian ending tarian belum selesai, namun kali ini mereka sudah berikan ending yang tepat untuk tarian kreasinya,” terang Suharta.

Potensi Buleleng dalam segi tabuh memang tak perlu diragukan lagi. Apalagi Buleleng telah mumpuni dalam mengenal 7 (tujuh) nada untuk garapan tabuh. Hal tersebut pun ditegaskan oleh I Made Astawa selaku koordinator garapan, “Di Buleleng ada 6 (enam) atau 7 (tujuh) nada sudah kami kenal dan gunakan,” tegas Astawa.

Dalam garapan ini, nyatanya angklung kebyar yang dipentaskan oleh Sekaa Karawitan Eka Wakya, Banjar Paketan, Buleleng baru dikenal dan digarap. “Sebenarnya kami tidak punya angklung, kalau gong kebyar punya. Karena tahun ini ada di Buleleng istilahnya utsawa angklung kebyar se-Kecamatan Buleleng jadi kami pun antusias,” papar Astawa.

Semenjak mengikuti utsawa angklung kebyar yang dibarengi dengan kompetisi ini pun akhirnya berbuah manis pada Sakaa Karawitan Eka Wakya. “Pada kompetisi utsawa angklung kebyar itu kami mendapatkan juara pertama dan saat itulah kami dipercaya untuk mewakili Buleleng dalam Pesta Kesenian Bali di parade tari dan tabuh angklung kebyar,” ungkap Astawa bangga.

Selang waktu persiapan dan latihan, tim pembina pun langsung mengawasi sekaligus mengomentari garapan angkulng kebyar yang disajikan. Astawa pun berujar bahwa pembina dari provinsi memberi komentar, angklung kebyar yang disajikan terlalu cepat sehingga serupa gong kebyar. “Tapi sebenarnya tempo cepat itu telah menjadi ciri khas kami di Buleleng, jadi kami jelaskan begitu ke pembina saat itu,” jelas Astawa. (mp)