Api’ Semangat Wayang Wong Bangli

79

DENPASAR, MEDIAPELANGI.com – Api sebagai semangat penciptaan kembali dilirik sebagai sarana penciptaan kisah Dramatari Wayang Wong SMK Negeri 4 Bangli. “Api yang membakar keangkara murkaan dibakar dengan api yang penuh dengan semangat sportivitas,” tutur I Putu Dedi Puspantara bijak di kalangan Angsoka Taman Budaya Bali, Kamis (12/07/2018).

Menjadi otak dibalik Wiracarita Ramayana yang dibawakan SMK Negeri 4 Bangli membuat Dedi memiliki pesan tersendiri di dalamnya. Kejadian penculikan Dewi Sita yang dilakukan Rahwana menyulut api amarah yang diredakan oleh api semangat Rama untuk merebut kembali Sita dengan ajaran dharma.

“Karena dari tema PKB tahun ini Teja Dharmaning Kauripan kami kira lakon yang kami ambil tepat sekali,” ujar Dedi yang turut tampil sebagai Sugriwa dalam garapan wayang wong itu.

Sebagai penggarap sekaligus penampil, tak sedikit pun Dedi menunjukkan ekspresi lelah dan gusar. Meski tangannya agak dingin, namun semangat Dedi yang membuncah tampak jelas saat dirinya meloncat-loncat lincah di Kalangan Angsoka Taman Budaya, Denpasar.

Selain sebagai penggemar seni, Dedi yang turut menjadi tenaga pendidik di SMK Negeri 4 Bangli ini pun berujar meski terdapat guru yang tampil termasuk dirinya, namun perbandingan lebih banyak tetap kepada siswa.

“Saya sebagai guru ikut tampil, tapi siswa yang lebih banyak ikut karena PKB ini sebagai salah satu ruang mereka untuk berkreasi dan berekspresi,” ungkap Dedi yang masih mengenakan kostum Sugriwanya.

Adapun siswa yang terlibat dalam sekolah kejuruan ini berasal dari jurusan seni tari, pedalangan, dan karawitan yang sudah dipilih sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki.

Tak hanya di Pesta Kesenian Bali, wayang wong dari SMK Negeri 4 Bangli pun telah tampil di beberapa acara keagamaan dengan ngayah di pura-pura. Kesenian wayang wong yang disajikan memiliki inovasi-inovasi agar digemari kalangan era kini.

“Misalnya kami menggunakan selonding dan memasukkan humor setipe bondres,” jelas Dedi.

Sayang, niat untuk menambahkan sesuatu yang baru tampaknya tidak begitu pantas. Sebab, wayang wong sendiri merupakan tradisi klasik dengan ciri khas penggunaan topeng khusus wayang wong.

Masuknya penampil tanpa topeng dan berlaku layaknya bondres mestinya dapat dihindari dengan memperkuat dialog para pemain wayang wong.

Mengesampingkan hal itu, semangat berkreativitas SMK Negeri 4 Bangli patut mendapatkan apresiasi guna membuncah semangat untuk berkarya dan berkarya lagi. (mp)