Bupati Eka Apresiasi Semangat Para Penari : Meskipun Kerauhan, Siswi Penari Rejang Sandat Ratu Segara Tidak Kapok Menari Lagi

995

TABANAN, MEDIAPELANGI.com – Bupati Tabanan pencetus Tarian Kolosal Rejang Sandat Ratu Segara, Ni Putu Eka Wiryastuti, merespon pemberitaan salah-satu media di Tabanan mengenai kesurupan Penari. Dirinya mengapresiasi semangat para penari dan sarankan “melukat” bagi para penari yang masih mengalami kesurupan setelah pentas di pelataran Pura Tanah Lot, Sabtu (18/8/2018).

Mengenai hal itu, Bupati yang akrab disapa Eka tersebut saat dijumpai tim Humas Tabanan, Senin (20/8/2018) malam, mengatakan bahwa adanya gesekan unsur positif dan negatif. Karena Tarian Rejang Sandat Ratu Segara bersifat persembahan kehadapan penguasa segara, memang harus sakral dan berfungsi sebagai pembersih unsur negatif. Sehingga setelah menarikan Tari Kolosal itu, unsur negatif terganggu atas kehadiran unsur positif dan harus dimurnikan melalui penglukatan (pembersihan diri).

“Tarian ini memang dirancang agar sakral dan berfungsi membersihkan unsur negatif yang ada di dalam diri. Bisa saja ada unsur negatif, dan memang pada dasarnya mereka (yang kesurupan) ada kelainan (bebayian) ataukah ada unsur lainnya. Sehingga setelah menari, masuk unsur positif, dan menyebabkan unsur negatif itu terganggu dan terjadi gesekan antara unsur positif dengan unsur negatif”, jelasnya.

Dirinya pun menegaskan bahwa energi negatif bawaan dari dalam diri tersebut memang sulit dilepaskan. Sehingga harus melakukan Penglukatan (pembersihan) di Pura Luhur Tanah Lot). Niscaya dengan melukat bisa menghindarkan diri dari unsur-unsur energi negatif.

“Itu (energi negatif) seperti magnet yang enggak bisa dilepas atau sulit dilepas, makanya kita harus melukat (setelah melakukan tarian). Karena Tari ini adalah pengeruakan atau pembersihan. Jikalau memang dia sakit karena unsur bawaan ya Astungkara dibersihkan”, tambah Eka.

Bupati perempuan pertama di bali itu-pun menambahkan, dikatakannya atau mungkin juga mereka memang ada bawaan unsur niskala, seperti kepingit, ataukah memang harus ngiring dan lainnya yang berhubungan dengan unsur niskala. Sehingga dengan tidak langsung melalui Tari Rejang Sandat Ratu Segara ini para penari dibersihkan dari unsur-unsur negatif”, ucapnya.

Bahkan sejauh hari sebelum dipilihnya penari, para penari dengan sukarela dan tidak ada unsur pakasaan berpastisipasi dalam menarikan Tari Rejang Sandat Ratu Segara. Dan sudah dijelaskan pula ini adalah Tarian sakral dan bersifat pembersihan unsur-unsur negatif dan juga merupakan persembahan tulus ikhlas kepada penguasa segara (laut). Sehingga, kesurupan dan lain-lain tidak terbantahkan dan pasti terjadi.

“Mereka menari dengan sukarela, jadi ada keinginan, tidak ada unsur paksaan. Dan orang tuanya pun sadar. Sampai ada orang-tuanya bilang akan ajak anaknya mepamit Ke Tanah Lot dan tidak ada masalah”, tegas Bupati Eka.

Dan kedepan apabila masih ada penari yang masih sering kesurupan, Bupati Eka menyatakan siap membantu, sesuai dengan prosesi yang harus dijalankan. Sudah tentu adanya persembahan ini tiada lain untuk tujuan yang baik, dan sudah tentu dari awal penggarapan hingga sebelum dipentaskan dan akan dipentaskan, Bupati Eka selalu memohon kerahayuan, melakukan persembahyangan di Pura Luhur Tanah Lot, baik pribadi maupun bersama Penari.

Siswi Penari Rejang Sandat Ratu Segara

“Dengan adanya kesurupan ini, memang diyakini Tarian itu memang benar-benar sakral. Mengingat Tarian ini nggak main-main, kededepan, kita harus sterilkan dahulu penari sebelum menarikan Rejang Sandat Ratu Segara untuk meminimalisir hal buruk yang akan terjadi”, tutup Eka.

Setelah mendengar pengaduan dari pihak Sekolah SMPN 3 Selemadeg Timur, I Gusti Ngurah Dharma Utama selaku Camat Selemedeg Timur langsung bertindak tegas dan bertanggung-jawab penuh atas hal tersebut.

Dirinya bersama dengan pihak Kepala Sekolah SMPN 3 Selemadeg Timur, Perbekel, pihak staf Kecamatan dan para Siswi yang bersangkutan, segera menghaturkan Guru Piduka di Pura Luhur Tanah Lot, dan itu-pun sesuai dengan petunjuk Rohaniawan (mangku) setempat.

“Setelah mendengar aduan tersebut, kami langsung bertindak dan bertanggung-jawab penuh. Dan sejauh ini para siswa tidak ada yang mengeluh setelah kejadian tersebut. Semua kembali ceria”, ucap Camat Seltim.

Sekembalinya ke Sekolah, setelah ngaturang Guru Piduka di Pura Luhur Tanah Lot, mantan Sekcam Marga-pun sempat menanyakan langsung keadaan Sinta dan kawan-kawan (para penari) yang bersangkutan. Mereka mengaku tidak ada keluhan apapun. Diakui pula bahwa mereka sehat dan baik-baik saja, senang serta tidak ada keluhan apapun, dan tidak kapok menari lagi, bahkan mereka mengucapkan Terimakasih karena telah diberi kesempatan menarikan Tari Rejang Sandat Ratu Segara.

“ Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu Bupati, karena memberi kesempatan bagi kami menarikan Rejang Sandat Ratu Segara. Pengalaman yang sangat luar biasa bagi kami semua”, ucap Sinta.@humastabanan.