Cak SMAN 1 Gianyar dan SMAN 2 Semarapura, Dapatkan Kenikmatan Budaya

74
Pementasan Cak

DENPASAR, MEDIAPELANGI.com – “Mereka ini betul-betul enjoy melakukannya itu yang harus kita catat. Kalau mereka sudah enjoy itu artinya mereka sudah membekali diri mereka dengan kenikmatan budaya,” jelas I Wayan Dibia selaku pengamat seni dalam gelar Bali Mandara Nawanatya III, saat ditemui Sabtu malam (8/9/2018).

Meski garapan cak kedua sekolah ini (SMAN 1 Gianyar dan SMAN 2 Semarapura-red) belumlah sempurna, namun sebagai pengamat seni Dibia melihat jelas pancaran kenimatan berkesenian dari para pelajar yang menampilkan parade cak pada Bali Mandara Nawanatya III di Panggung Terbuka Ardha Candra Taman Budaya, Denpasar. SMAN 1 Gianyar yang tampil membawakan cak bertajuk Warah Weruh menceritakan kisah Sumambang yang menjadi antek dari Walanata Ing Dirah dengan kesaktian jahatnya melawan anak Mpu Baradah yakni Swagandu.

Sumambang dengan kesaktian jahatnya justru terbunuh karena apa yang dimilikinya selama ini yakni kegelapan dan kejahatan. A.A Sagung Mas Ruscita Dewi (pengatam seni Bali Mandara Nawanatya) berujar garapan kecak SMAN 1 Gianyar memiliki cerita yang terlalu mendominasi, “Cak dalam bentuk formasi belum tergarap maksimal, opening dan endingnya kurang greget, alurnya juga monoton,” tambah Mas mengkritisi.

Tak hanya dari Gianyar, parade cak yang dikhususkan untuk para pelajar Sekolah Menengah Atas ini pun diisi pula oleh SMAN 2 Semarapura. Tutur Katuturang menjadi tajuk garapan kecaknya. Menceritakan kisah empas dan angsa yang ingin pindah tempat karena dilanda kekeringan, yang diakhiri dengan petaka si empas yang harus rela diserbu anjing karena tak tahan saat dihina.

Melihat garapan dari SMAN 2 Semarapura, Mas pun mengungkapkan garapan ini lebih dinamis dengan caknya kuat walaupun tari masih mendominasi. “Hanya kurang formasi dan kurang dikasih istarahat, full sekali caknya untung mereka kuat, dan nampak menikmati dan bahagia,” jelas Mas.

Pementasan Cak

Pengakuan senada pun turut diungkapkan Dibia. “Kalau untuk yang dua-duanya ini ya kok agak verbal jadinya jadi terlalu banyak dialog, musiknya jadi berkurang,” terang Dibia. Dari musik yang mendominasi hingga cak yang menjadi sendratari harus diwaspadai kedua penampil. Namun, mengesampingkan semua itu Dibia melihat wajah-wajah kebahagiaan kedua sekolah ini dalam menarikan kecak. “Coba bayangkan kalau ini hilang, Nawanatya ini hilang anak-anak ini kapan mereka bisa diapresiasi begini. Yang main 150 yang berapresiasi 1 sekolah,”  ucap Dibia dengan gurat wajah serius.

Kedua sekolah ini memang belum mempersembahkan secara total garapan kecaknya. Tapi bagi Dibia intinya wajah kebahagiaan anak-anak dalam berkesenian adalah yang utama.

“Kalau mereka terpaksa mungkin dalam hatinya akan ada penolakan. Tapi kalau mereka enjoy seperti itu kan ada pengisian sendiri dalam diri mereka,” ungkap Dibia. Tak hanya itu, Dibia pun mengamati terdapat proses internal yang bisa dilihat dalam diri anak-anak. “Semangatnya bagus,” tambah Dibia seraya berlalu.(mp)