IWB Singaraja Gelar Upacara Metatah dan Mesih Warga Bugbug di Buleleng

116
Upacara Metatah dan Mesih

BULELENG, MEDIAPELANGI.com – Ikatan Warga Bugbug (IWB) Singaraja memfasilitasi ratusan warga Bugbug di Kabupaten Buleleng untuk menuntaskan kewajiban niskalanya melaksanakan rangkaian upacara metatah dan mesih yang dilakukan di Arena Kelurahan Kampung Anyar Singaraja.

Singaraja, Metatah dan Mesih sebagai rangkaian pelaksanaan manusia yadnya dilakukan secara massal dengan puncak kegiatan pada Rabu (12/12/2018) oleh Ikatan Warga Bugbug (IWB) Singaraja dengan melibatkan 122 peserta metatah dan 44 pasangan suami istri melakukan Mesih melalui sejumlah rangkaian upacara.

Metatah sudah sangat lazim dikenal masyarakat di Bali merupakan upacara potong gigi sevagai upacara keagamaan bila seorang Anak sudah beranjak dewasa dan diartikan juga pembayaran hutang oleh Orang Tua ke anaknya karena sudah bisa menghilangkan keenam sifat buruk dari diri manusia.

Sementara, Mesih merupakan satu rangkaian upacara yang harus dilakukan berdasarkan dresta atau adat istiadat di Desa Pakraman Bugbug sebagai rangkaian dari upacara perkawinan yang menandai secara resmi pasangan suami istri secara adat.

“Upacara mesih ini sesungguhnya adalah rangkaian upacara perkawinan yaitu upacara ini istilah umumnya natab upacara widi widana utawi natab upacara pawiwahan, karena dulu waktu dia merebu belum dia natab upacara ini, mungkin dengan dasar kemampuan atau banyak hambatan baru bisa dilaksanakan, karena upacara mesih ini setelah selesai baru sah tepak kulkul di desa baru boleh dia menjadi pemaksaan dan diakui oleh desa bugbug mesaluk namanya,” ungkap Jro Bhawati Rai selaku Penasehat IWB Singaraja.

Hal senada diungkapkan Ketua Panitia Pelaksana Kegiatan Gede Supanca, di mana dalam proses metatah dan mesih itu, meski dilakukan di Singaraja, namun tetap mengacu pada tatanan dan dresta yang dilakukan di Desa Pakraman Bugbug “Karena menurut dresta atau adat di desa bugbug, setiap warga bugbug sehingga upacara metatah dan mesih ini kita mengambil pola yang selama ini dilaksanakan di desa adat bugbug,” ujarnya.

Ketua IWB Singaraja, Gde Wisnaya Wisna mengatakan, dua kegiatan yang dilakukan secara massal itu sebagai upaya untuk memfasilitasi keinginan masyarakat perantauan Desa Bugbug yang selama ini masih terkendala untuk melakukan kewajibannya secara niskala.

 

Peserta Metatah dan Mesih

“Yang melatarbelakangi adalag keinginan kita untuk membantu warga yang secara ekonomi belum mampu secara eaktu juga tidak banyak punya dan juga secara kemanusiaan ingin membantu orang lain satu dengan yang lain sehingga kegiatan ini menyalurkan memfasilitasi ketiga hal itu, mereka yang belum mampu melaksanakan kewajiban untuk metatah anak-anaknya dan juga ada yang ingin berbagi bersama-sama ikut metatah termasuk juga mesih,” papar Wisnaya Wisnaya.

Wisna Wisna mengakui dengan kegiatan yang dilakukan secara massal itu mendapat respon yang positif dari sejumlah warga, sehingga prediksi peserta terus bertambah dan ini menunjukan adanya dukungan pelaksanaan metatah dan mesih yang dilakukan IWB Singaraja.

“Ini diluar prediksi kami, ternyata respon positif datang dari masyarakat sehingga peserta kegiatan metatah dan mesih ini bertambah, ada 122 peserta metatah dan 44 pasangan suami istri ikut mesih. Kondisi ini menyebabkan kita berpikir kegiatan akan dilakukan secara berkala, sama dengan pengabenan kinembulan untuk membantu masyarakat kita,” ungkap Ketua Komisi IV DPRD Buleleng.

Upacara metatah dan mesih yang dilakukan IWB Singaraja juga menjadi perhatian para Bendesa dan Prajuru Adat Desa Bugbug yang langsung datang dan melihat prosesi pelakdsanaan kegiatan tersebut. “IWB sangat berperan membantu masyarakat di bugbug yang dalam perantauan ini membantu untuk pelaksanaan kegiatan metatah dan mesih serta telah menuntaskan pelaksanaan sekarang ini dalam kegiatan manusia yadnya ini,” ungkap Jro Bendesa Desa Bugbug, Jro Nyoman Jelantik.

Dalam kegiatan yang dipusatkan di Arena Kelurahan Kampung Anyar, Kecamatan Buleleng rangkaian proses metatah dan mesih dilakukan secara bertrahap dan dipimpin Jro Bhawati Rai dengan melibatkan pihak-pihak yang berkaitan terkait pelaksanaan prosesi tersebut. Kegiatan berlangsung hingga malam hari. (*mp)