Kembali Kerauhan di Sekolah, Pasca Menari Rejang Sandat Ratu Segara

395
foto -ist - Salah Satu Siswi SMPN 4 Kediri Di Pura Tanah Lot

TABANAN, MEDIAPELANGI.com – Tidak saja siswi SMPN 3 Selemadeg Timur yang mengalami kerauhan di sekolah.  Sama halnya juga yang dialami siswi SMPN 4 Kediri pasca menari Rejang Ratu Sandat Segara  di Tanah Lot pada Sabtu (18/8/2018) juga  mengalami kerauhan.

Para orangtuanya kembali menggelar ritual guru piduka ke Pura Tanah Lot, Tabanan.agar anaknya tenaang karena anaknya pasca menari terus kerauhan dan bahkan loncat serta berteriak histeris. Selain itu, anaknya juga kerap mendengar bisikan gamelan dan kerap ingin menari di Pantai Tanah Lot,”kata Ni Ketut Sudarmi orang tua siswi Ni Putu Anisa Prema Anjani (14) di temui usai mengelar ritual guru piduka di Pura Tanah Lot. Selasa (21/8/2018).

Sementara itu Kepala Sekolah SMPN 4 Kediri Dewa Nyoman Sarjana saat di konfirmasi membenarkan anak didikanya kerauhan di sekolahnya. “Dirinya mengakui memang saat itu kami tidak langsung melihat keadaan anak didik kami karena kami masih mengikuti work shop,”jelasnya.

Diakui dari laporan wakil kepala sekolahnya bahwa ada 5 orang siswi dari Kelas IX yang mengalami kerauhan di Sekolah, dan langsung mengelar ritual di pelinggih sekolah dengan menghaturkan pejati. Disamping itu berdasarkan laporan ada juga orang tua siswi yang langsung datang ke pura Tanah Lot menggelar ritual mepamit,”jelasnya.

Seperti diketahui, kerauhan para siswi pasca menari Rejang Sandat Ratu Segara Sabtu (18/8/18) di Tanah Lot. Saat itu, 1.800 penari Rejang Sandat Ratu Segara menari dengan diiringi lantunan gamelan di Pantai Tanah Lot.

Sebelumnya juga Pada Senin (20/8/2018) kerauhan massal kembali terjadi di SMPN 3 Selemadeg Timur, Tabanan. Pihak sekolah pun merasa khawatir dengan kondisi anak didiknya tersebut. Dan langsung saat itu ngaturang guru piduka sebagai simbol mepamit di Pura Luhur Tanah Lot dengan mengajak seluruh siswi yang ikut menari yang berjumlah 25 orang, tapi yang kerauhan 7 orang.

Pasca menggelar ritual guru piduka di Pura Tanah Lot semua siswi yang mengalami kerahuan di sekolah sudah pulih kembali dan tidak lagi di hantui perasaan ingin menari dan histeris seperti sebelumnya,”ungkap  Kepala Sekolah SMPN 3 Selemadeg Timur, Putu Arka Bujangga.

Sementara itu Bupati Tabanan pencetus Tarian Kolosal Rejang Sandat Ratu Segara, Ni Putu Eka Wiryastuti, mengenai kesurupan Penari. Dirinya mengapresiasi semangat para penari dan sarankan “melukat” bagi para penari yang masih mengalami kesurupan setelah pentas di pelataran Pura Tanah Lot, Sabtu (18/8/2018)

Bahwa adanya gesekan unsur positif dan negatif. Karena Tarian Rejang Sandat Ratu Segara bersifat persembahan kehadapan penguasa segara, memang harus sakral dan berfungsi sebagai pembersih unsur negatif. Sehingga setelah menarikan Tari Kolosal itu, unsur negatif terganggu atas kehadiran unsur positif dan harus dimurnikan melalui penglukatan (pembersihan diri).

“Tarian ini memang dirancang agar sakral dan berfungsi membersihkan unsur negatif yang ada di dalam diri. Bisa saja ada unsur negatif, dan memang pada dasarnya mereka (yang kesurupan) ada kelainan (bebayian) ataukah ada unsur lainnya. Sehingga setelah menari, masuk unsur positif, dan menyebabkan unsur negatif itu terganggu dan terjadi gesekan antara unsur positif dengan unsur negatif”, jelasnya.

Dirinya pun menegaskan bahwa energi negatif bawaan dari dalam diri tersebut memang sulit dilepaskan. Sehingga harus melakukan Penglukatan (pembersihan) di Pura Luhur Tanah Lot). Niscaya dengan melukat bisa menghindarkan diri dari unsur-unsur energi negatif.

Dikatakannya atau mungkin juga mereka memang ada bawaan unsur niskala, seperti kepingit, ataukah memang harus ngiring dan lainnya yang berhubungan dengan unsur niskala. Sehingga dengan tidak langsung melalui Tari Rejang Sandat Ratu Segara ini para penari dibersihkan dari unsur-unsur negatif”, ucapnya.

Bahkan sejauh hari sebelum dipilihnya penari, para penari dengan sukarela dan tidak ada unsur pakasaan berpastisipasi dalam menarikan Tari Rejang Sandat Ratu Segara. Dan sudah dijelaskan pula ini adalah Tarian sakral dan bersifat pembersihan unsur-unsur negatif dan juga merupakan persembahan tulus ikhlas kepada penguasa segara (laut). Sehingga, kesurupan dan lain-lain tidak terbantahkan dan pasti terjadi.

“Mereka menari dengan sukarela, jadi ada keinginan, tidak ada unsur paksaan. Dan orang tuanya pun sadar. Sampai ada orang-tuanya bilang akan ajak anaknya mepamit Ke Tanah Lot dan tidak ada masalah”, tegas Bupati Eka.

Dan kedepan apabila masih ada penari yang masih sering kesurupan, Bupati Eka menyatakan siap membantu, sesuai dengan prosesi yang harus dijalankan. Sudah tentu adanya persembahan ini tiada lain untuk tujuan yang baik, dan sudah tentu dari awal penggarapan hingga sebelum dipentaskan dan akan dipentaskan, Bupati Eka selalu memohon kerahayuan, melakukan persembahyangan di Pura Luhur Tanah Lot, baik pribadi maupun bersama Penari.

“Dengan adanya kesurupan ini, memang di yakini Tarian itu memang benar-benar sakral. Mengingat Tarian ini nggak main-main, kededepan, kita harus sterilkan dahulu penari sebelum menarikan Rejang Sandat Ratu Segara untuk meminimalisir hal buruk yang akan terjadi”, tegas Bupati  Eka.(mp)