Kembangkan Desa Wisata Timpag Lestarikan Tyto Alba dan Pertanian

243
Foto - Pemasangan Rubuha di Tengah Areal lahan Persawahan Desa Timpag

TABANAN, MEDIAPELANGI.com – Desa Timpag kini melestarikan burung hantu jenis Tyto Alba sebagai upaya membasmi serangan hama tikus yang mengancam lahan pertanian, dan menuju lahan pertanian organik. Krama desa juga telah memasang belasan Rumah Burung Hantu (Rubuha) di areal persawahannya.

Pelestarian burung hantu ini dilakukan karena Desa yang memiliki luas wilayah 465 hektar dengan  375 hektar luas Subak terdiri dari Subak Timpag, Tangkluk, Penatih dan Sambian ini sempat mengalami gagal panen karena serangan hama tikus pada 2009 silam.

Perbekel Timpag I Gusti W Sukawahana menuturkan, konservasi burung hantu jenis Tyto Alba juga tengah gencar dilakukan, terbaru pemasangan rumah burung hantu (rubuha, red) sebanyak lima unit. Dimana Tyto Alba sebagai predator alami hama tikus, diharapkan bisa mengantisipasi hama, dan petani tidak perlu menggunakan pestisida.

” Dengan pemasangan rubuha ini, kami harap Tyto Alba ini nantinya akan mampu membasmi hama tikus yang pernah menerjanh lahan pertanian kami,” ujarnya, Selasa (15/52018).

Dia melanjutkan, menjadi salah satu desa dengan 60 persen areal lahan pertanian tentunya pernah mengalami sejumlah tantangan, tidak hanya serangan hama tikus yang sempat mengganas hingga menyebabkan petani gagal panen hingga ancaman alih fungsi lahan. Hanya saja, semua tantangan tersebut bisa dilalui berkat keinginan kuat masyarakat setempat untuk bisa mempertahankan sektor pertanian yang ada.

“Kalau tidak salah pernah terjadi tahun 2009 silam, hampir 70 persen petani gagal panen akibat serangan hama tikus, bahkan saat itu menggunakan racun pembunuh tidak mempan justru tambah parah, “ucapnya.

foto – Warga Desa Timpag Lestarikan Tyto Alba

Akhirnya, dengan keberadaan burung hantu yang sudah ada sejak lama didesa setempat kemudian tercetus keinginan melakukan konservasi burung hantu. Karena selama ini burung ini tinggal di atas pohon kelapa,  pohon beringin atau dalam plafon rumah yang bolong.

“Satu burung hantu betina mampu bertelur enam butir. Sayangnya  setelah dewasa mereka tidak lagi tinggal dengan induknya. Untuk mempertahankan populasi ini agar terus hidup di desa Timpag kami buatkan sarang,’’ jelas Sukewahana.

Pada tahap awal telah dipasang lima sarang dari lima belas sarang yang disiapkan dengan jarak 200 meter untuk masing-masing sarang. Selain membuatkan sarang, lanjut Sukewahana nantinya burung hantu ini dibiasakan untuk memangsa tikus.’’ pengenalan makanan pertama itu penting. Jika dikenalkan tikus, maka akan memangsa tikus. Jika diberikan ayam, maka yang dimangsa seterusnya adalah ayam,’’ jelas Sukawahana.

Dengan berkembangnya populasi burung hantu Tyto alba ini nantinya diharapkan bisa mengatasi hama tikus dan tentu menekan penggunaan zat kimia dalam pertanian. Sehingga pertanian organik secara bertahap bisa diterapkan.(ka)