Koster: Desa Adat Ujung Tombak Pembangunan Jati Diri Orang Bali

33
foto - ist - ketika Calon Gubernur Bali nomor urut 1, Wayan Koster simakrama dengan warga Desa Dangin Tukadaya, Kecamatan Jembrana, Senin malam, (14/5/2018).

JEMBARANA, MEDIAPELANGI.com – Ada yang menarik ketika calon Gubernur Bali nomor urut 1, Wayan Koster menggelar simakrama dengan warga Desa Dangin Tukadaya, Kecamatan Jembrana, Senin malam, (14/5/2018).

Sekitar 500 warga yang memenuhi Banjar Sebual rupanya sudah tahu kiprah kandidat yang berpasangan dengan Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati itu selama menjabat sebagai anggota DPR RI. Warga tahu jika Koster amat peduli dengan kebutuhan masyarakat Bali. 25-30 wantilan ia bangun tiap tahun yang jika ditotal hingga saat ini sudah sekitar 300-an wantilan di seluruh Bali yang berdiri. Belum lagi bantuan seperangkat gong dan gamelan, pembangunan dan dana renovasi pura serta hal lainnya. Itu sebabnya, begitu Koster tiba di lokasi warga langsung meminta wantilan kepada Koster. Ya, rupanya warga di sana belum memiliki wantilan.

Menjawab permintaan warga, Koster memaparkan jika memang pengadaan wantilan menjadi salah satu program kerjanya kelak sebagai Gubernur Bali periode 2018-2023. “Kalau sebagai anggota DPR saja saya bisa membangun wantilan yang sekarang kalau ditotal sudah sekitar 300-an unit di seluruh Bali, apalagi jadi gubernur yang memang punya kewenangan untuk itu. Saya berkomitmen membangun dan mempercantik wantilan di seluruh Bali,” kata Koster. Ditambahkan dengan pola 1 jalur, dirinya yang memiliki kedekatan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi), akan lebih mudah mendapatkan anggaran maupun program yang bisa diturunkan ke kabupaten/kota se-Bali. Pada Pilpres 2014, Wayan Koster adalah Ketua Tim Pemenangan Jokowi-JK Provinsi Bali. Pada saat itu Jokowi-JK menang di Bali dengan perolehan suara 71 persen.

Salah satu program prioritas Koster di bidang adat, agama, seni, tradisi dan budaya adalah memperkuat fungsi dan kedudukan desa adat. Salah satunya merevisi Peraturan Daerah (Perda) tentang Desa Pakraman. Di sisi lain, bantuan untuk desa adat akan ditingkatkan dari Rp225 juta di era Made Mangku Pastika menjadi Rp 275-300 juta. Ia ingin desa adat memiliki peran sentral dalam menempa dan membangun jati diri, integritas moral manusia Bali. “Jadi, saya memang ingin wantilan di seluruh Bali itu harus bagus-bagus. Di wantilan itulah naninya kreativitas, seni, budaya dan pembangunan karakter, jati diri serta integritas moral orang Bali ditempa. Wantilan harus menjadi pusat aktivitas warga mulai dari anak-anak, remaja hingga orang tua,” ujarnya.

Untuk itu, ia akan mendorong desa adat nantinya menyelenggarakan pendidikan Hindu sejak dini. “PAUD dan TK diselenggarakan desa adat dan tempatnya di wantilan. Di Gianyar, Badung dan Tabanan model seperti ini sudah saya ujicobakan dan berhasil. Nah, ini mau saya polakan di seluruh Bali,” katanya. Di sisi lain, Koster ingin mengangkat trnaga kontrak dari desa adat setempat dengan kualifikasi yang lengkap.

“Tenaga kontrak itu dari desa setempat dan ditugaskan di desanya. Nanti tugasnya mengajar di desa seperti megamel, ngigel, baca lontar, baca puisi dan lainnya, megenep lah dia. Desa harus jadi ujung tombak pembangunan karakter, jati diri dan integritas moral orang Bali. Saya berkomitmen untuk itu,” demikian Koster.(mp)