Makna Baju Adat Timor Tengah Selatan yang Dipakai Presiden Jokowi di Upacara HUT RI

93
Presiden Joko Widodo menjadi Inspektur Upacara HUT Ke-75 RI di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8-2020) yang ditayangkan Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden. (Tangkapan Layar)

JAKARTA, MEDIAPELANGI.com – Presiden Joko Widodo mengenakan baju adat dari Kabupaten Timor Tengah Selatan, saat menjadi Inspektur Upacara Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI di Istana Merdeka, Jakarta, Senin.

Berdasarkan keterangan dari Sekretariat Presiden di Jakarta, Senin, Presiden mengenakan baju adat dari Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur itu.

Dalam baju adat itu, terdapat kain motif Kaif berantai nunkòlo. Motif tersebut sudah dimodifikasi dari bentuk belah ketupat (motif geometris) dengan batañg tengah yang berartì sumber air, dan bagian pinggir bergerigi melambangkan wilayah yang berbukit dan berkelok-kelok.

Baca Juga:  Update Covid-19 Bali: Bertambah 63 Pasien Positif, Sembuh 92 Orang

Sedangkan warna merah melambangkan keberanian laki-laki nunkolo.

Sejumlah aksesoris yang disematkan di pakaian adat itu untuk menambah indah kain tenun, dan tentunya memiliki makna kegunaan praktis.

Aksesoris dester yakni ikat kepala atau Pilu. Ada tiga jenis Yi U Raja dengan bentuk dua tanduk kecil yang artinya fungsi Raja yang melindungi.

Kemudian, ikat di kepala sebagai penutup kepala untuk pelindung yang menjadi tanda kebesaran Raja sebagai Mahkota.

Selanjutnya Tas sirih pinang dan kapur. Aksesoris itu untuk menunjukkan budaya makan sirih pinang sebagai budaya pemersatu atau persatuan dan juga melambangkan tanda kasih dan hormat. Maka tas sirih pinang selalu dikenakan.

Baca Juga:  Efektif Turunkan Angka Penyebaran Covid-19, Operasi Yustisi Protokol Kesehatan Di Desa Diintensifkan

Dalam upacara kemerdekaan kali ini, Presiden memasuki lapangan upacara dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, seperti mengenakan masker berwarna putih yang sepadan dengan warna pakaian adat dari Timor Tengah Selatan itu.

Upacara HUT RI di Istana Merdeka pada tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena mengedepankan protokol kesehatan pencegahan penularan COVID-19.

Jumlah peserta yang hadir di Istana Merdeka dibatasi. Masyarakat dan sebagian besar pejabat negara dan pejabat daerah mengikuti upacara kemerdekaan secara virtual.(ant)

 

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Please enter your comment!
    Please enter your name here