Meraih Asa di Panggung Terbuka Ardha Candra

43

DENPASAR,MEDIAPELANGI.com – “Berkesinambunganlah untuk berseni dan jiwa akan melekat pada seni,” tutur Koordinator Sangar Musik dan Vocalika Intan Bina Suara, I Ketut Antra ketika berbicara seni. Hal itu sekaligus mendasari targetnya yang bernyali.

Istilah bernyali acap kali diidentikan dengan hal berani seperti kisah heroik yang bahkan menggancam nyawa si penolong. Namun jika kata itu dimasukan dalam ranah seni, jelas tidak sekaku itu. Bagi Ketut Antra, bernyali lebih pada makna “menjadikan hidup”.

Dirinya ingin melestarikan kebudayaan, dimana dalam representasinya mampu menjiwai —menjadikan hidup–seni itu sendiri. Berangkat dari sana, diajaknya anak-anak sanggar Musik dan Vocalika Intan Bina Suara, Duta Kabupaten Klungkung berproses dalam penggrapan penampilan yang di pentaskan dalam Parade Lagu POP Daerah di Panggung Terbuka Ardha Candra untuk memeriahkan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-40, Rabu malam (11/07/2018).

“Kami menampilkan Lagu Medokaran oleh anak putra, anak-anak putri ‘ambu putih’ Remaja yang pertama taksu, yang ke dua tatwam asi, dan yang ke tiga adalah brother and sister,” ucap Koordinator Sangar Duta Kabupaten Klungkung itu Ketika itu, Ketut Antra melibatkan anak-anak sanggarnya mulai dari mengaransemen lagu hingga membuat narasi lagu.

“Lagu ambu putih misalnya, itu isinya cita-cita seorang anak belia untuk membahagiakan orang tua . Itu dia yang menulis. Disetor pada saya. Dan saya koreksi sedikit,” tutur Antra.

Antra menyurutkan, anak-anak harus berproses dan mampu mempertanggungjawabkan yang mereka buat, bukan sekedar meniru yang sudah ada. Sehingga mereka mampu menjiwai ketika tampil diatas pentas.

Jika berbicara tentang aransemen lagu, lain lagi kisah Duta Kota Denpasar. Menutut Koordinator Sanggar Musik Catur Muka, I Komang Astita.

“Kita mempunyai cukup waktu dalam persiapan sebenarnya. Tetapi kita efektif 2 minggu belakangan dan itu latihannya setiap hari. Itu karena waktu itu Arranger-nya ada kesibukan, jadi belum ada arransemen musik dan pemecahan suara,” tutur Astita.

Adapun lagu yang mereka bawkan yakni Lagu Sandikala kategori anak-anak putra, Lagu Peteng Tanpa Sundih ketegori anak-anak putri, Lagu Ni Diah Tantri dengan vokalis remaja kategori Solo, dan Lagu Dharma Negara dengan vokalis remaja kategori duet.

Ketika berpicara tentang persiapan harapan melutus dari bibir I Komang Astita. “Mudah-mudahan tidak terlalu mengecewakan.”

Disamping itu, Parade Lagu POP Daerah juga menghadirkan SMAN 1 Singaraja sebagai Duta Kabupaten Buleleng.

“Kita menampilkan 5 buah lagu. Yang pertama lagu anak-anak putri yang berjudul “mewisata ke Buleleng”, ke- 2 lagu Bapa yang dibawakan oleh penyanyi putra anak-anak. ke-3 lagu “ngantosang walesan´ , yang kw-4 lagu kropak wayang, yang terakhir “Juru Pencar” papar Koordinator SMAN 1 Singaraja, Ketut Wisnawa.

Kelompok itu membutuhkan waktu 5 bulan dalam proses persiapannya. Hanya saja Ketut Wisnawa mengatakan waktu dan dana menjadi kenadalanya kala itu.

“Kendala mengatur waktu, gongnya harus nyewa, tempat latian, juga masalah pendanaan,” aku Koordinator Duta Kabupaten Buleleng. Melalui PKB dirinya berharap agar senantiasa lagu POP Bali terus berkembang (mp).