Meramu Leluhur Tari Palegongan Klasik

88
Tari Legong

DENPASAR,MEDIAPELANGI.com –  Telah berkembang sejak lama, rupanya tari legong tak mutlak berdiri sendiri. Bali Mandara Mahalango 5 pun membawa masyarakat mengenal siapa sejatinya leluhur tari klasik ini.

Gelar seni kerakyatan “Leko Nyenyong” Komunitas Seni Padma Bhuddaram dan “Legong Prebangsa” Sekaa Andir Banjar Pakraman Carik menjadi jawaban atas sejarah tari legong di Bali. Kedua penampil yang berasal dari Tabanan ini pun mempersembahkan garapan terbaiknya di Kalangan Madya Mandala Taman Budaya, Denpasar.

Diawali dengan penampilan Komunitas Seni Padma Bhuddaram, Desa Tunjuk, Tabanan yang membawakan Leko Nyenyong atau yang lebih akrab dikenal sebagai Tari Leko. Menurut I Nyoman Sumandi (Ketua Komunitas Seni Padma Bhuddaram-red), kala Legong belum dikenal Tari Leko sudah diketahui oleh masyarakat Bali khususnya Tabanan.

“Legong belum dikenal di tahun 1957, tapi saat itu Leko Nyenyong sudah berkembang dan dulu lebih dikenal dengan sebutan Tari Leko,” jelas Sumandi saat ditemui disela-sela pementasan Rabu malam (22/8/2018) di panggung Madya Mandala, Taman Budaya, Denpasar.

Kala ditanya soal perbedaan antara Tari Leko dengan Legong, Sumandi pun menjelaskan dengan panjang lebar. “Sebenarnya Tari Leko ini memiliki perbedaam-perbedaan dengan Tari Legong, tabuhnya lebih sederhana dan tidak sedinamis Legong,” terang Sumandi.

Tak hanya itu, Sumandi pun menjelaskan bahwa Tari Leko juga memiliki tradisi mengibing di dalamnya. Pada era global seperti ini, Sumandi agak prihatin dengan generasi muda yang mulai melupakan substansi Tari Leko. “Generasi muda agak alot dengan substansi sesungguhnya dari Tari Leko, pakemnya berbeda dengan Legong tapi banyak yang mengubah menjadi Legong,” tutur Sumandi dengan gurat wajah yang tidak lagi santai. Meski berbeda, Sumandi pun menambahkan bahwa Tari Leko ini sudah menjadi bagian dari tetua palegongan.

Sebagai penampil kedua, Sekaa Andir Banjar Pakraman Carik, Desa Tista, Kecamatan Kerambitan, Tabanan membawakan Legong Prabangsa. “Sebenarnya nama Andir sendiri adalah nama sebuah tari klasik yang merupakan bentuk mula dari Tari Legong Kraton,” jelas I Wayan Karya salah satu penanggung jawab dari Sekaa Andir Banjar Pakraman Carik.

Andir yang merupakan leluhur dari Tari Legong maupun Palegongan bermula dari gerak yang terdapat dalam Tari Gambuh. “Nah gerak dari Gambuh itu diambil yang sukar-sukar dan diperhalus lagi, sehingga lahirlah Tari Legong ini,” tambah Karya.

Musiknya pun lebih dinamis sehingga sangat cocok mendampingi gerak Tari Legong yang enerjik. Tak hanya dari Tari Gambuh, Legong Prabangsa ini pun juga dikembangkan dari tari upacara yakni Tari Sang Hyang, sehingga tak menampik bahwa para penari akan mengalami kerauhan. Ada banyak kisah dalam Tari Legong, namun kali ini Sekaa Andir mengangkat Cerita Malat yang mengisahkan tentang Prabu Lasem.

Puncak pementasan Legong Prabangsa berupa adegan kerauhan saat Rangda tampil di atas panggung. Tak hanya penari, penonton pun sontak kerauhan dari berbagai penjuru areal penonton. Adegan kerauhan ini berlangsung cukup lama dan melibatkan puluhan orang.

Terlepas dari adegan kerauhan, baik Leko NyeNyong maupun Legong Prabangsa memilki cirri khasnya masing-masing. Namun, yang perlu diingat adalah keduanya merupakan leluhur Tari Legong yang mutlak untuk dijaga dan dilestarikan sebagai bentuk dari kebudayaan Bali yang adiluhung.(mp)