Musda DPD II Partai Golkar Jembrana Ricuh

18
Musda DPD II Golkar Jembrana Ricuh

JEMBRANA, MEDIAPELANGI.com . Musyarawah Daerah (Musda) DPD II Partai Golkar Kabupaten Jembrana, Selasa (18/8/2020) berlangsung ricuh. Kericuhan disebabkan adanya protes dari sejumlah Pengurus Desa (PD) maupun Pengurus Kecamatan (PK) di Jembrana.

Kericuhan berawal dari datangnya tiga utusan sayap partai yakni MDI, HWK dan Satkar Ulama. Ketiga utusan ini diprotes kader lainnya karena dinilai datang terlambat dan verifikasi surat mandat sudah ditutup. Ketiga utusan ini bahkan diminta keluar dari lokasi musda.

Kericuhan antar kader Partai Golkar ini sempat ditengahi sejumlah pengurus partai, baik DPD II Golkar Jembrana maupun dari DPD I Golkar Bali, namun tidak berhasil. Bahkan sejumlah PD maupun PK mengajukan tuntutan agar jajaran DPD I Golkar Bali bisa bersikap netral atau independen.

“Saya minta DPD I (Golkar Bali) tidak intervensi. Biarkan pimpinan (Ketua) nanti muncul dari suara akar rumput” ujar Gede Muliarsa, PD Kelurahan Dauhwaru.

Dirinya sangat menghormati dan patuh akan himbauan Ketua DPD I Golkar Bali, Nyoman Sugawa Korry agar pelaksanaan Musda bisa berjalan aman, sejuk dan damai, tapi kenapa tiga utusan yang datangnya jelas-jelas terlambat dibolehkan masuk.

Baca Juga:  Gabungan TNI/Polri, Pemprov Bali Gelar Razia Penertiban Protokol Kesehatan Covid-19

“Kami diminta untuk mentaati aturan dan kami sudah mentaati. Lalu kenapa yang tiga itu dijinkan” tandasnya.

Dikonfirmasi terpisah Ketua DPD I Golkar Bali, Nyoman Sugawa Korry mengatakan bahwa pelaksanaan Musda DPD II Golkar Jembrana hari ini ditunda. Penundaan ini atas permintaan panitia pelaksana Musda.

“Setelah menerima usulan dari panitia, Musda hari ini ditunda. Musda akan dilaksanakan paling lambat sebelum tanggal 31 Agustus” ujar Sugawa Korry di Kantor Golkar Jembrana, Selasa (18/8/2020).

Penundaan Musda lanjutnya, karena disinyalir ada pihak pihak diluar peserta yang justru melarang peserta sah untuk masuk mengikuti musda. “Kalau ini dibiarkan tentu akan menjadi kurang bagus” imbuhnya.

Selain itu juga ada banyak peserta yang tidak teridentifikasi datang ke acara Musda. Padahal peserta sudah dibatasi dengan mengedepankan strandar protokol kesehatan Covid-19.

“Karena masih Covid-19, sehingga peserta dibatasi, tapi yang datang ternyata diluar kendali. “Ini masih saya pelajari, apakah ada yang menggerakkan atau bagaimana,” tandasnya.

Sugawa Korry justru mempertanyakan upaya dari peserta yang melarang peserta lainnya masuk kendati membawa surat mandat sah.

“Ada apa ini?. Justru yang melarang ini tidak mendengarkan panitia. Boleh terlambat, sidangnya kan belum dimulai” jelasnya.

Baca Juga:  Gubernur Bali Resmikan Diberlakukannya Digitalisasi Pembayaran Kawasan Pariwisata dan Soft Launching Web Pasar se-Bali

Terkait dugaan bahwa tiga utusan yang datang terlambat merupakan pengurus yang baru dibentuk oleh Plt DPD II Golkar Jembrana menurutnya, pihaknya tidak bisa menilai menilai apalagi mengintervensi apakah itu baru dibentuk atau sudah lama karena merupakan kewenangan dari Plt.

Selanjutnya Sugawa Korry berharap agar semua pihak bisa berjalan baik sesuai keinginan DPP Partai Golkar. “Nanti kita selesaikan sehingga bisa berjalan kondusif. Jembrana ini (Musda) yang kelima di Bali. Ini yang…ya dalam demokrasi ini biasa. Target sebelum tanggal 31 ini sudah selesai” tegasnya.

Dalam Musda DPD II Golkar Jembrana sebelumnya muncul tiga kandidat calon yakni Made Suardana (PLT Ketua DPD II Golkar dan anggota DPRD Bali), Wayan Suardika (Mantan Ketua DPD II Golkar dan kini menjadi anggota DPRD Jembrana) dan Ketut Widastra (mantan anggota DPRD Jembrana).

Namun belakangan nama Wayan Suardika mundur diduga kurang mendapat dukungan. Musda kini diikuti dua calon yakni Made Suardana dan Ketut Widastra. Keduanya bersaing dengan memperebutkan 11 suara. (mp/ka-ak)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Please enter your comment!
    Please enter your name here