Panen Raya, MUI Pusat Janji Terbitkan Sertifikat Halal untuk Kopi Plaga

220
Direktur Pusat Inkubasi Bisnis Majelis Ulama Indonesia (MUI), Azrul Tanjung disela-sela panen raya kopi Plaga di Banjar Semanik, Desa Plaga, Badung, Jumat (09/08/2019)

BADUNG, MEDIAPELANGI.com – Setelah menembus pasar Starbucks, petani kopi Banjar Semanik Sari, Desa Plaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung Bali menggelar Panen Raya Kopi. Panen raya yang difasilitasi Coop Cofee Kementrian Koperasi ini juga menghadirkan Direktur Pusat Inkubasi Bisnis Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini, mendapat angin segar karena Kopi Plaga akan segera mendapat Sertifikat Halal.

“Kita sudah melihat secara langsung bagaimana proses panen kemudian produksi kopi ini, jadi sebenarnya tidak bgitu sulit memberikan sertifikasi halal. Karena sumber bahan bakunya jelas, prosesnya jelas dan hasilnya juga jelas, sehingga dalam waktu dekat insyaallah kita akan fasilitasi teman-teman ini untuk mendapatkan sertifikasi,” ujar Direktur Pusat Inkubasi Bisnis Majelis Ulama Indonesia (MUI), Azrul Tanjung disela-sela panen raya kopi Plaga di Banjar Semanik, Desa Plaga, Badung, Jumat (09/08/2019) siang.

Azrul yang juga menjabat Ketua Komite Ekonomi MUI menjelaskan, pentingnya pemahaman halal. Karena halal bukan hanya semata lepas dari sesuatu yang haram, tetapi juga sesuatu yang dihasilkan dari bahan baku dan proses yang berkualitas.

“Kenapa penting kita bicara halal, nah halal ini tidak semata-mata lepas dari sesuatu yang haram tetapi juga proses dan kualitas. dalam islam disebut dengan halalal toyibah, nah dalam halalan toyibah ini menunjukan kualitas,” tambahnya.

Azrul juga mengapresiasi kinerja Coop Coffee Kementrian Koperasi melalui Deputi Pembiayaan, karena berkat edukasi yang dilakukan kepada para petani sehingga Kopi Plaga menembus pasar Internasional yakni Starbucks yang telah berkomitmen membeli hasil kopi petani Plaga. Pihaknya juga berjanji akan memfasilitasi petani kopi Plaga agar menjadi kopi global.

“Masuknya Starbucks sudah menunjukan bahwa Starcbuks tidak hanya berkomitmen kepada petani, tetapi mereka melihat bahwa kualitas kopi di sini bagus, prosesnya juga bagus sehingga pasar sangat terbuka. Jadi ini menjadi hal penting kearifan ekonomi lokal bagi masyarakat bali. Saya kira potensinya sangat-sangat bagus. Ini harus kita bisa terus menerus dan petani harus kita edukasi. Kenapa? Hasilnya bagus tapi prosesnya kurang bagus juga menghasilkan hasil yang kurang bagus. Kopinya kan bagus sekali ini, tapi kalau yang dipanen itu bukan kopi cherry atau kopi yang merah ya hasilnya kurang bagus,” ungkap Azrul.

Azrul mengatakan, pentingnya edukasi bagi para petani mulai dari tahapan budidaya, proses panen dan proses pasca panen untuk menghasilkan kopi Greenbeen. Sehingga dapat mendatangkan keuntungan bagi para petani, produsen kopi dan para penikmat kopi.

“Kita ingin mengedukasi agar masyarakat Indonesia tidak hanya menikmati kopi yang tidak hanya enak tetapi kopi yang berkualitas tinggi. Kita menggandeng Kementrian Koperasi dan UKM melalui Deputi Pembiayaan dan kita juga menggandeng pengusaha. Nah ini kan petani ini kesulitan biaya panen dan produksi, nah ini kita berharap para pengusaha mau turut serta membiayai biaya panen. Nah ini sudah terjadi hari ini, pengusaha mau membeli kopi mereka dengan tunai dan membantu biaya panen yang biayanya dipotong saat pembayaran.

MUI berharap arus ekonomi baru yang diprogramkan oleh Pemerintahan Jokowi – Ma’ruf Amin dalam program kerja Kabinet Indonesia Kerja (KIK) nantinya, dapat mendorong semua hasil pertanian ciri khas lokal dapat menjadi hasil hasil yang bersaing secara global.

“Kita berharap ke depan, membangun ekonomi Indonesia ini berdasarkan lokal. Jadi ciri-ciri khas daerah harus kita tonjolkan, nah ini yang perlu kita lakukan kedepan dan lebih dari itu, kopi-kopi khas ini menjadi kopi global, kopi internasional,” pungkas Azrul Tanjung.

Ketua Kelompok Petani Kopi Semanik Sari, I Ketut Sudi mengatakan, sebelum adanya edukasi oleh tim Coop Cofee Kementrian Koperasi, para petani kopi di Plaga enggan merawat kopi karena kendala pemasaran dan ketidaktahuan proses pengolahan kopi untuk menghasilkan citarasa kopi yang bagus. Namun sejak dua tahun belakangan, kelompoknya diajarkan budidaya kopi hingga proses pengolahan sehingga saat ini petani kopi plaga kembali menggeluti komoditi kopi.

“Sebelum dapat pembelajaran dari tim kementrian koperasi, patani kopi di sini sudah beralih ke komoditas pertanian lain. Karena pemasarannya kurang, kemudian dari budidaya juga belum. Sekarang setelah ada pendampingan dari kementrian kemudian belajar untuk mengikuti operasional prosedur, sehingga kami bisa menciptakan citarasa kopi lebih bagus sehingga pemasaran lebih lancar dan petani sudah semakin bertambah menjadi petani kopi,” ungkap Ketut Sudi.

Ketua Koperasi Nasioanal, Reza fabianus mengatakan, dalam program pemasaran khususnya pertanian perkebunan dalam konteks hulu ke hilir, selama ini ada permasalahan antara permintaan pasar dan kualitas produksi dari UKM.

“Data statistik eskpor kopi Indonesia ke dunia sejak 2015 dan seetrusnya itu, 1 Milyar US Dolar. Jadi singkatnya, pasar itu besar, namun pertanyaan sederhananya, mengapa petani belum menikmati hasil daripada pasar nilai besar dari penjualan kopi tersebut. Sehingga dalam konteks pemasaran hulu dan hilir, kami menciba untuk membuka jaringan pemasaran bagi produk UKM dalam hal ini produk hasil pertanian perkebunan khususnya kopi Arabica,” kata Reza.

Namun demikian menurut Reza, pada tingkat pembeli selalu meminta kualitas produk yang bagus, sehingga kementrian koperasi hadir untuk melakukan pendampingan dan edukasi. Kementrian Koperasi dan UKM dalam program coop coffee melalui deputi pembiayaan melakukan pendampingan petani sehingga kualitas produk yang dihasilkan sesuai permintaan standard pasar.

“Kebutuhan pasar selalu menentukan syarat dan kualitas. Nah selain rantai akses pasar tadi, kelemahan dari produk-produk UKM ini kan soal kualitas. Dalam konteks program tersebut, kita membuka akses pasar sekaligus meningkatkan daya saing, sehingga kualitasnya itu memang kualitas internasional. Dalam konteks petani kopi, setelah kami bukakan pasar, dalam hal ini pasar dunia yaitu Starbucks yang memang pengusaha bisnis di bidang kopi ya kami harus juga membina petani. Dalam konteks koperasi nasional memang tugasnya mendampingi dan memberikan pelatihan agar mereka bisa memenuhi syarat yang diminta pasar,” papar Reza. (*mp-aw)