Penari Legong Klasik Pria Desa Sading

112

DENPASAR, MEDIAPELANGI.com – Legong Klasik dari Desa Sading Badung yang tampil di Pesta Kesenian Bali ke-40, Minggu (24/06/2018) mengecoh penonton.

Jiwa maskulin penari disembunyikan melalui riasan wajah dan kostum legong yang membuat penonton mulai mencoba menerka-nerka, pria atau wanitakah para penari itu?

Mereka para penari menampilkan tiga Tarian Legong Klasik yang bertajuk Legong Klasik Sudarsana, Legong Bramara, dan Legong Raja Cina.

Menurut kordinator Sanggar Ardhanareswari dari desa Sading Badung, Agus Wira Aditama dan Kadek Sanggra Widari, para penari legong adalah pria.

Menurut Agus Wira pentas ini dikhususkan untuk pria yang menarikannya.

“Kami dari Sanggar Ardhanareswari sudah 10 tahun bergelut dalam tari Legong Klasik dan para penari kami berasal dari daerah yang berbeda-beda,” ujar Agus Wira Aditama.

Cukup dengan waktu 10 hari, Sanggar Ardhanareswari yang berkolaborasi dengan Sekaa Semara Pegulingan Punia Bhakti membuat penonton terkecoh akan kelihaian penari.

Widari menuturkan, Legong klasik sudah ada sejak abad ke-16. Kala itu Ni Polok (maestro tari-red) yang pertama kali menarikan tari legong dengan sebuah kisah di dalamnya.

“Pada abad ke-18 lah laki laki mulai menarikan tari legong klasik ini,” ungkap Agus Wira yakin.

Tak hanya Legong Klasik, Desa Sading pun turut menampilkan Tabuh Pantun Gede yang lahir diera 30-an.

Ketut Sudiarsa, selaku kelian Desa Adat Sading mengaku baik legong klasik maupun tabuh Pantun Gede menjadi perhatian khusus agar senantiasa dilestarikan keberadaannya.

“Kami senantiasa melangkah bersama dalam satu komitmen untuk menggali warisan leluhur,” ujar Sudiarsa bijak.

Melalui proses penggalian itulah, Sudiarsa pun percaya warisan leluhur di Desa Sading dapat diwariskan ke generasi berikutnya agar keberadaannya utuh dan abadi. (mp)