Penutupan Bali Mandara Mahalango 5 Semoga Seni Tetap Bersemi

210
Penutupan Bali Mandara Mahalango 5 Semoga Seni Tetap Bersemi

DENPASAR, MEDIAPELANGI.com – Pentas yang berlangsung selama 38 hari lamanya telah menjadi saksi bahwa seniman Bali selalu memiliki tempat di hati masyarakat. Meski sang penggagas telah berpamit, namun kesenian khas Bali tak akan pernah pamit mengisi pulau dewata.

Meski gubernur Bali, I Made Mangku Pastika memasuki masa purna bakti namun gagasannya dalam memajukan seni dan budaya Bali senantiasa dinanti masyarakat dan seniman Bali. Hal itupun turut disadari oleh I Ketut Gede Rudita. Sebagai seorang seniman Bali, Rudita pun sangat mengapresiasi adanya Bali Mandara Mahalango. “Selalu memberikan wadah untuk berkreativitas adalah yang selalu saya apresiasi dari Bali Mandara Mahalango,” terang Rudita.

Rudita yang lebih dikenal sebagai salah satu anggota grup bondres Celekontong Mas dengan nama panggung Sokir ini pun kali ini turut menyemarakkan penutupan Bali Mandara Mahalango yang berlangsung di Panggung Terbuka Ardha Candra Taman Budaya, Denpasar (28/8/2018).

Rudita pun tak sendiri, grup bondres Celekontong Mas pun berkolaborasi dengan Sanggar Paripurna Gianyar yang dipimpin oleh dalang kenamaan Bali I Made Sidia. Membawakan Pementasan Sendratari Kolosal bertajuk Parikesit Cakraningrat, ternyata turut menggandeng beberapa warga Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar untuk tampil pula di dalamnya. Salah satunya Ni Wayan Suratni. Turut tampil dalam garapan kolosal ini, dosen ISI Denpasar ini pun merasa bahagia. “Rasanya senang bisa ikut berpartisipasi, semoga Bali Mandara Mahalango bisa terus berlanjut dan lebih kreatif,” harap Suratni.

Tak hanya sebuah sendratari kolosal, sebuah apresiasi bertajuk Penghargaan Bali Mandara Parama Nugraha Tahun 2018 pun turut menjadi sebuah hal yang spesial bagi para seniman Bali. Penerima penghargaan itu salah satunya yakni I Made Sidia yang dikenal dengan inovasinya dalam dunia pewayangan, salah satunya yakni Wayang Listrik.

Menurut Sidia ia mengaku bangga dan bersyukur kepada Tuhan telah dipercaya untuk tampil di Mahalango. “Pertunjukan yang kami tampilkan ialah Sendratari Parikesit Cakraningrat. Latar belakang digarapnya pertunjukan ini karena kebetulan sekarang masa akhir jabatan dari gubernur sehingga akan ada pemimpin baru nanti secara estafet. Nah, Parikesit ini juga salah satu regenerasi pemimpin di Kerajaan Astina,” terang Sidia.

Untuk pementasan ini Sidia melibatkan 200 penari dan penabuh, kalau termasuk properti sampai 250 orang dari sanggar Paripurna. Paduan suara nan merdu pun turut dipersembahkan anak-anak paduan suara dari SMA dan SMK Bali Mandara. Salah satu penampil yakni Luh Putu Ade Eka Suryadarma Putri mengaku penampilannya bersama rekan-rekan SMK dan SMA Bali Mandara terasa agak berbeda. “Tahun lalu sempat tampil juga tapi rasanya biasa saja, sekarang terasa agak berbeda karena harus berpisah dengan pak gubernur,” ungkap Ade Eka haru.

Sebuah lagu bertajuk “Pamit” yang digemari Gubernur Bali I Made Mangku Pastika menjadi kejutan spesial dari anak-anak SMK dan SMA Bali Mandara. Gong Suling Sementara sore harinya sebelum penutupan berlangsung pementasan Gong Suling yang menampilkan Sanggar Bambu Swara dari desa Kesiman Petilan, Denpasar Timur.

Mereka menampilkan kreasi gong suling dengan judul ‘Gesing’ karya I Wayan Adi Darmawan, Rare Angon digarap I Made Mahotama Warmauta dkk, tabuh dan tari kontemporer ‘Rwa Bhineda’ dan ‘Litle Krisna’ karya I Wayan Adi Darmawan dan Wayan Gede Bimantara. Ada juga tabuh Gong Suling klasik ‘Tiying Gading’.

“Niki yang jelas pasti kebangkitan, karena apa karena gong suling itu kan populernya tahun 1952 hingga tahun 60-an,” tutur pengamat seni, I Made Bandem. Menurut Bandem, dengan membangkitkan gong suling ini adalah salah satu usaha yang bagus untuk anak anak muda. Itu tidak mudah dimainkan oleh anak anak.

“Asal mereka punya teknik yang bagus saya rasa ini salah satu kebangkitan dan diteruskan kepada kelompok kelompok atau komunitas yang lain lagi,” harap Bandem.

Sementara itu pengamat seni lainnya yang juga curator Bali Mandara Mahalango 5, I Komang Astita mengatakan gong suling merupakan perkembangan dari gong kebyar. Jadi dari segi repertoar mengambil dari gong kebyar tapi medianya suling.

Jadi dulu memang selain suling itu untuk gambuh, arja, lalu ada yang mengembangkan secara masal mengikuti alunan gong kebyar. Jadi di sana ada bagian bagiannya ada pukulan jegogan, suara jegogan, ada juga seperti pemimpin di gong kebyar ada ugal. “Setahu saya gamelan gong suling yang terkenal dari Sempidi, polanya sih sama mengikuti pola dang ending gong kebyar. Cuma karena media keseluruhannya bambu jadi instrumennya menjadi khas,” pungkas Astita (*mp).