Puja Wali Pura Luhur Batukaru, Panitia Berikan Dharma Wacana Singkat Kepada Pemedek

41
?????????????

Tabanan (Mediapelangi.com)-Ribuan umat mendak tangkil saat digelarnya Puncak Karya Pujawali di Pura Luhur Watukaru yang jatuh bertepatan dengan Umanis Galungan, Kamis (2/11/2017).

Pujawali kemarin diawali dengan prosesi upacara munggah diiringi dengan tarian wali atau tari sakral dilanjutkan dengan persembahyangan.

Hingga malam pemedek masih banyak yang berdatangan untuk melakukan persembahyangan. Padatnya kendaraan, maka seperti tahun-tahun sebelumnya panitia Karya mengatur arus lalu lintas menjadi satu arah. Kendaraan yang menuju pura diarahkan lewat jalur samping yaitu belok kiri di Desa Wangaya Gede menuju arah barat lalu memutar melewati hutan dan akan tembus ke areal parkir. Kendaraan umum tidak boleh langsung menuju areal pura. Oleh karenanya  pemedek harus berjalan kaki dari parkiran menuju pura yang berjarak sekitar 400 meter. Tidak sedikit diantaranya ada yang naik ojek dengan ongkos Rp. 8.000,- untuk satu kali jurusan.

Sementara di Wantilan Pura Luhur Watukaru yang baru saja selesai direhab, sekitar Pk. 20.00 Wita nampak puluhan pemedek antusias menyaksikan anak-anak dan remaja yang ngayah mesolah mementaskan sejumlah tarian.

Kemarin malam (2/11) tarian yang dipentaskan antara lain tari Sekar Jagat, Wirayuda, Legong Lasem dan Tari Panji Semirang, Kebyar Duduk, Merak Angelo, Jauk Manis dan sebagainya yang dibawakan oleh Sanggar Tari “Ayu” yang beralamat di Jalan Debes Tabanan diiringi penabuh dari Sanggar Suara Cita Kerambitan.

Dari hasil pantauan awak media ini, pengaturan persembahyangan oleh Panitia dan Pecalang nampak semakin tertata dan tertib sehingga pemedek tidak sampai berdesak-desakan. Begitu juga setelah beberapa tahap persembahyangan dilakukan jeda untuk memberikan kesempatan kepada panitia dan pengayah mereresik (melakukan bersih-bersih) di palataran pura sehingga areal pura nampak selalu bersih sehingga suasana tetap nyaman dipandang mata.

Seperti biasa pemedek melakukan persembahyangan di tiga lokasi yaitu di Pura Taman Beji, Mandala Utama Batukaru dan Pura Dalem Watukaru. Di tiga lokasi tersebut disela-sela persembahyangan atau saat pemedek nunas tirta, Pengenter Karya (juru siar) menyelingi dengan menyampaikan Dharma Wacana singkat terkait tata dan etika persembahyangan seperti etika berbusana, sarana atau kelengkapan persembahyangan serta kebersihan.

Kemarin prajuru menyampaikan topik tentang filosofi Kwangen, dijelaskan bunga yang patut digunakan membuat Kwangen untuk persembahnyan antara lain bunga jepun, sandat, cempaka, tunjung dan sebagainya. Begitu juga porosan, ada dua jenis porosan yang patut digunakan di Kwangen yang disebut porosan silih asih (porosan lanang –istri). “Porosan istri, basang base diolesi pamor dan digulung dari kanan ke kiri sekadi anak istri memakai wastra. Porosan lanang, tundun base diolesi pamor dan di gulung dari kiri ke kanan, seperti orang lanang memakai wastra. Kemudian diikat dengan benang, Kwangen adalah simbul Hyang Prama Kawi”, jelasnya.

Terakhir  setelah selesai persembahyangan, pengenter mengingatkan kepada pemedek agar tidak lupa dengan barang bawaannya, sekaligus mengajak pemedek mengumpulkan sesari Kuwangen dan menaruhnya di kotak sesari serta mengumpulkan “paridan” (perlengkapan persembahyangan yang sudah tidak digunakan lagi) agar  dikumpulkan ditempat yang sudah disediakan termasuk tas kresek atau plastik dupa agar dibuang di tong sampah. “Menjaga kebersihan di arel pura juga merupakan wujud sembah bakti, pungkasnya.

Made Sudarta salah seorang pemedek asal Pupuan Tabanan, saat ditemui mengaku senang mendengar Dharma Wacana singkat dari panitia karya yang disampaikan disela-sela prosesi persembahnyan.  “Kami merasa mendapat tuntunan, apalagi tadi prajuru menyampaikan masalah etika dan filosofi perlengkapan sembahyang, juga tentang kebersihan di areal pura yang seharusnya memang menjadi tanggungjawan semua umat”, terangnya.

Pujawali di Pura Luhur Batukaru akan nyejer selama tiga hari dan penyineban akan dilakukan pada hari minggu (5/11) siang.(*/mp.mn).