Selemadeg Barat, Mengapai Ketinggian Bukti Tumpeng

280

Tabanan (Mediapelangi.com)-Tak lekang oleh waktu, kenangan indah itu tidak juga hilang di kepala. Bayangan lama saat masa kecil dulu seperti kembali berputar setiap melewati jalan raya Tabanan – Gilimanuk, tepatnya saat melintas di Desa Lalanglinggah, Selemadeg Barat Tabanan Bali.

Setiap kali melewati jalur itu, mata selalu tergoda mendongak keatas, menatap ke arah perbuktian di utara, hingga terlihat sebuah bukti yang menjulang hijau lancip, bukit itu bernama Bukti Tumpeng.

Konon disebut “Bukit Tumpeng” karena bentuknya lancip seperti nasi tumpeng, letaknya percis bersebelahan di barat Pucak Bukit Ragda.

Bukit Tumpeng memiliki ciri khas yaitu dipuncaknya terdapat tower milik Telkom. Dulu orang tua menyebutnya “microit” (semacam tower seluler sekarang). Saat itu hingga puluhan tahun kemudian bukit-bukit di Tabanan belum ada dibangun tower yang serupa.

Hingga tahun 1990 an,  saat jalan jurusan Surabrata menuju  Desa Mundeh Kauh, Belatungan dan desa-desa sekitarnya belum mulus alias jalan tanah, waktu  itu angkutan umum sangat sulit, masyarakat memilih melintasi jalur Bukit Tumpeng dengan berjalan kaki atau dengan sepeda motor. Jalur ini adalah jalur alternatif menuju desa-desa diatasnya karena  jarak tempuh paling dekat menuju jalur utama Denpasar-Gilimanuk. Masa itu, pelajar yang bersekolah ke kota pasti banyak yang memiliki kenanangan di jalur ini. Begitu juga para saudagar/pedagang, banyak yang melewati jalur ini untuk mengangkut hasil bumi seperti cengkeh, kopi, pisang, cabe dan rempah-rempah untuk dijual ke kota.

Photo: Jalan di Banjar Bukit Tumpeng

Setelah puluhan tahun tidak pernah lagi melewati jalur Bukti Tumpeng menuju Pura Luhur Pucak Bukit Rangda, Desa Penataran dan sekitarnya Sabtu (11/11/2017) penulis mencoba melakukan “tampak tilas” di jalur ini.

Siang, dipesisir Desa Lalanglinggah Selamadeg Barat, sebelum Desa Selabih, penulis belok kanan kearah utara melewati jalan kecil beraspal menuju banjar Dinas Bukit Tumpeng. Walau lama tidak pernah melintas di jalur ini ternyata kondisi dan lebar jalan nampak  belum banyak berubah. Di kiri kanan jalan banyak tumbuh pohon kelapa. Begitu juga badan jalan, di beberapa bagian aspalnya mengelupas bertabur batu-batu lepas.  Dan saat tiba ditikungan yang mulai sepi, kami memilih menepi karena sempat ragu tidak tahu jalan mana menuju puncak. Untung dari arah balai banjar datang mendekat seorang warga, sebut saja namanya Bapak Wayan yang dengan ramah berkenan memberi arahan dan petunjuk jalan. Tetapi setelah diberi petunjuk kami tidak langsung melanjutkan perjalanan, kami memilih beristirahat sejenak sambil mendengar  cerita Bapak Wayan yang mengaku sebagai petani dan anggota kelompok nelayan di Banjar Bukit Tumpeng.

Kemudian kami berdua bercerita panjang lebar tentang  aktivitas dan asal usul masyarakat Banjar Bukit Tumpeng. Kami pun memperoleh informasi kalau, tower/mikroit yang ada puncak Bukit Tumpeng dibangun dan diplaspas tahun 1972 dan baru-baru ini di puncak dibangun lagi satu tower, sehingga kini ada dua buah tower.

Cerita BapakWayan kembali mengingatkan masa kecil dulu di era tahun 1980 an. Saat itu ketika melihat ke arah tower di puncak Bukti Tumpeng selalu membayangkan bagaimana caranya orang membuat tower di puncak bukit, jalannya dari mana, dan seterusnya. Bahkan kala itu sempat juga membayangkan Bukti Tupeng dan Bukit Rangda memiliki “misteri” sama seperti legenda Bukti Manoreh di tanah Jawi yang waktu itu sering disebut-sebut dalam serial Sandiwara Radio kolosal “Saur Sepuh”, karya Niki Kosasih sekitar tahun 1987 an.

Photo : Pemandangan Laut dari Ketinggian Bukit Tumpeng

Setelah puas mendengar cerita Bapak Wayan, perjalan kami lanjutkan. Sepeda motor kami pacu berlahan menyusuri punggung bukit.  Tidak lama kami akhirnya  tiba diketinggian di tepi hutan, woo sungguh menabjupkan, dari sela-sela pepohonan terlihat panorama pesisir Selemadeg Barat yang indah menawan. Dari ketinggian nampak jelas nyiur melambai berlatar pemandangan laut biru indah membentang, nampak juga samar-samar semenanjung Belambangan.

Sunguh mengesankan, cuaca cerah dan desir angin yang sejuk turut menemani perjalanan kami siang itu, sementara tower baja di puncak bukit hanya beberapa meter saja didepan mata. Hari itu terjawab sudah, akhirnya kami bisa tiba di puncak tertinggi Bukit Tumpeng, bukit yang dulu selalu membuat penasaran.

Setelah sedikit berbalik arah, perjalanan kami lanjutkan menyusuri jalan beton yang lumayan kokoh menuju arah Pura Luhur Pucak Bukit Rangda. Tahun80-an jalan beton ini masih jalan tanah, berkelok diantara kebun penduduk dan rimbun hutan lindung.  Akhirnya sayup-sayup terdengar suara gamelan, beberapa menit kemudian kami tiba di areal Pura Luhur Pucak Bukit Rangda.

Begitulah perjalanan siang itu, sungguh menyenangkan, walau jalan tidak begitu mulus namun sedikitpun tidak terlitas pikiran menyebut jalan itu jalan rusak, hal itu membuktikan jalan rusak atau tidak tergantung bagaimana kita memikirkan. Seperti kata orang bahwa semua  akan terasa indah dan pantas ketika pikiran dan jiwa kita iklas menerima suatu keadaan sebagai sumber pengetahuan. Selamat mencoba!(*/mp)