Wabup Sanjaya Kunjungi Sanggar “Rare Tebe Kangin” Pemanis

95
Wabup Sanjaya Kunjungi Sanggar Rare Tebe Kangin, Pemanis, Desa Biaung, Penebel, Tabanan Bali, Rabu (19/8/2020)

TABANAN, MEDIAPELANGI.com – Wakil Bupati Tabanan Bali, Komang Gede Sanjaya kunjungi “Sanggar Rare Tebe Kangin” asuhan Perupa yang juga pemerhati budaya- Made Bakti Wiyasa di Desa Adat Pemanis, Desa Biaung, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, Rabu (19/8/2020), siang.

Wabup Sanjaya tertarik melihat aktivitas Sanggar ini karena konsen menggunakan muatan budaya lokal sebagai materi pembelajaran bagi anak asuhnya.

Tiba di Tebe Kanginan Pamanis, Wabup Sanjaya langsung tertarik melihat puluhan lukisan yang  dipajang dihalaman Sanggar.

Kepada Komang Sanjaya, Made Bakti Wiyasa menjelaskan banyak lukisan dibuat terinspirasi oleh nilai-nilai budaya lokal Bali yang dikenalinya melalui situs-situs kuno, jelasnya.

Baca Juga:  Hasto: Calon Kepala Daerah dari PDIP yang Akan Bertarung di Pilkada Bekerja Keras Rebut Hati Rakyat

“Masyarakat Tabanan yang sosioagraris memiliki tatanan budaya lokal yang adiluhung, kami ingin  melestarikan melalui medium lukisan sekaligus nantinya menjadi media pendidikan kepada anak-anak, terangnya.

Di Sanggarnya lanjut Bakti Wiasa, anak-anak bisa belajar menari, melukis atau kegiatan seni lainnya dengan mengangkat obyek budaya yang banyak dijumpai ditengah kehidupan masyarakat tradisional khususnya yang ada di Pedesaan, imbuhnya.

Didampingi oleh Kadis Kebudayaan Tabanan I Gusti Ngurah Supanji, Camat Penebel I. G.A.N Supartiwi,  Perbekel Desa Biaung I Gede Putu Sutha Suyadnya, SH., Wabup Komang Sanjaya berharap muatan budaya lokal bisa dilestarikan sekaligus menjadi rujukan dalam kebijakan pembangunan oleh Pemerintah Tabanan. “Bagaimana kedepan tatanan budaya tersebut bisa direstorasi melalui kerja-kerja pemerintahan sehingga nilai-nilai budaya lokal tersebut tidak punah, pinta Wabup.

Baca Juga:  Sejebag Puri Tabanan, Bersatu Dukung Jaya-Wira

Kepada Wabup Sanjaya, Bakti Wiyasa juga memaparkan keprihatinannya karena belakangan banyak situs-situs kuno berupa bangunan-bangunan bersejarah dan Pura di Bali yang dibongkar atau di ganti tanpa didahului oleh proses pendokumentasian yang layak.

“Digantinya  situs-situs kuno dengan bangunan baru tanpa perencanaan dan pendataan yang layak sama saja kita kehilangan pengetahuan budaya lokal yang diwariskan para leluhur kita dimasa lalu, pungkasnya (*mp).

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Please enter your comment!
    Please enter your name here