Warga Keluhkan Pembangunan Tembok Senderan Pabrik Aspal

350
Senderan Tembok Pabrik Aspal Yang di Keluhkan Warga

TABANAN, MEDIAPELANGI.com – Warga Banjar Bantas Baleagung keluhkan pembangunan tembok pabrik Aspal milik PT. Procindo Tunggal Taruna. Pasalnya pembangunan tembok pabrik dengan lebar 1 meter, tinggi sekitar 20 meter dan panjang tak kurang dari 500 meter diduga mengambil sempadan  sungai.

Selain itu, pembangunan senderan yang memiliki tinggi puluhan meter ini juga dibangun tanpa adanya koordinasi dengan pihak masyarakat setempat. Dikwatirkan, ketika musim hujan tiba air bah yang mengaliri sungai tersebut akan menggerus lahan  milik warga akan amblas tergerus air.

Menurut salah satu warga Banjar Bantas Bale Agung, Wayan Sugitra mengungkapkan, pihaknya sama sekali tidak pernah mendapat pemberitahuan perihal pembangunan senderan tersebut.

Pabrik aspal milik PT. Procindo Tunggal Taruna memang sudah tidak beroperasi sejak tahun 2017 lalu. Karena terjadi penolakan warga desa. Pasalnya dampak yang timbulkan sangat luar biasa.

“Setelah lama tidak diijinkan beroperasi, kini pabrik tersebut membangun tembok besar dialiran sepanjang sungai yang akan menuju sungai besar Yeh Hoo. Kami tidak menyalahkan pabrik membangun tembok. Akan tetapi pembangunan tembok tidak mengambil sempadan sungai,” kata Sugitra Jumat (6/7/2018).

Sementara itu Kelihan Dinas Bantas Bale Agung, Ketut Suastika juga menyampaikan hal senada. Pihaknya juga banyak menerima keluhan dari masyarakat akibat adanya pembungan senderan yang membabat sempadan sungai. “Sudah banyak yang mengeluh, apalagi yang punya ladang. Kasihan warga jika tanahnya sampai habis karena tergerus aliran sungai yang bah,” ungkapnya.

Suastika menambahmkan , pada saat akan memulai pembangunan, juga tidak ada penyampaian kepada  masyarakat. Sehingga masyarakat tidak  mengetahui adanya proyek tersebut.

Untuk itu kami sangat berharap, kepada pihak perusahaan agar segera berkoordinasi dengan masyarakat. Karena dampak dari penyenderan ini berimbas kepada masyarakat,” harapnya.

Sementara itu, pihak perusahaan dari Bagian Operasional, Wayan Bagiada saat di temui membantah jika melakukan pembangunan senderan dengan mengambil bagian sempadan sungai. Dan menyatakan pembangunan tembok berada di tanah milik pabrik aspal.

Bahkan pembangunan tembok sudah tidak melebihi batas tanah milik pabrik. “Kami pun membangun tembok dengan mengurangi batas tanah pabrik dari sungai sekitar 2 meter.“Kami mebangun sudah sesuai gambar awal, tidak ada yang mengambil sempadan sungai,” ujar Bagiada..

Bagiada mengakui memang ada warga desa yang datang ke pabrik. Dengan adanya keluhan tersebut, kata dia, akan segera disampaikan kepada pimpinan perusahaan. Sehingga kelanjutannya akan menunggu kebijakan perusahaan. “Kami sebagai karyawan tidak dapat mengambil keputusan. Yang jelas keluhan warga desa tersebut. Akan kami sampaikan kepada pihak atasan kami,” tandas Bagiada (ka).